Bola Soba Yang Membakar Nurani Dan Heroisme Bone

Opini Andi Muhammad Sadat PhD ini dimuat di Rubrik Opini Tribun Timur edisi Selasa, 23 Maret 2021, dengan judul Bola Soba dan Amnesia Sejarah. Tulisan alumnus Fakultas Ekonomi Unhas ini mencabik nurani dan heroisme Bone lewat Bola Soba yang terbakar. Bagi Andi Muhammad Sadat PhD, bukan api yang melahap Bola Bola, justeru Bola Soba yang telah melalap nurani seluruh kawula Bone.

Oleh
Andi Muhammad Sadat PhD,
Putra Bone/Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta-Research Assistant at Southern Taiwan University of Science and Technology-Taiwan

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – “Bola Soba di Bone terbakar”, demikian kalimat singkat yang saya baca di grup WA alumni sekolah disertai beberapa gambar yang menunjukkan betapa si jago merah telah melalap habis ikon kerajaan Bone tersebut, dan hanya menyisakan tiang-tiangnya yang kokoh.

Bagi mereka yang dilahirkan di tanah Bone seperti penulis, Bola Soba yang berdiri sejak 1890 lebih dari sekedar bangunan kayu khas rumah Bugis dengan ratusan balok penyangga. Ia adalah monumen hebat dengan berjuta kisah.

Kebakaran rumah adat Bone atau Saoraja atau Bola Soba di Jalan Latenritatta, Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ( Sulsel ), pada Sabtu (20/3/2021) subuh. (FACEBOOK.COM/JAGO MERAH)Bola Soba dibangun pada masa pemerintahan Raja Bone ke-31 La Pawawoi Karaeng Segeri MatinroE ri Bandung ( ).

Sempat menjadi kediaman resmi Raja Bone ke-32 La Mappanyukki, lalu putra Petta Ponggawae, dan setidaknya dalam satu abad terakhir telah mewakili eksistensi Kerajaan Bone yang pernah mengalami masa keemasannya di era Arung Palakka ( ).

Tokoh yang patungnya tegap berdiri di alun-alun Kota Watampone, sangat disegani dimasanya dan terus menyimpan kontroversi hingga saat ini.

Meskipun hasil investigasi pihak berwenang mengklaim tidak ada pusaka kerajaan yang habis terbakar, karena hanya diisi oleh replika yang jumlahnya tidak banyak.

Namun Bola Soba tetaplah sebuah simbol bagi perjalanan masyarakat Bone yang harus dijaga eksistensinya.

Pertanyaannya, sudahkah kita menjaga aset peradaban tersebut secara layak?

Memelihara Ingatan

Marcus Tullius Cicero, seorang filosof hebat yang lahir tahun 106 SM, pernah berkata “to remain ignorant of history is to remain forever a child”.

Secara sederhana kalimat ini berarti bahwa, mereka yang mengabaikan sejarah akan tetap menjadi anak-anak selamanya.

Ungkapan itu merefleksikan betapa pentingnya sejarah—dan pelestariannya—bagi sebuah bangsa.